Sore itu kau hadir dengan cahaya terang menyilaukan mata.
Cahaya lampu itupun kedap kedip mengisyaratkan untuk bersinggah.
Suara peluit diserukan untuk menanggapi isyarat lampumu.
Seraya berkata diriku 'Bergegaslah sini sudah kusiapkan tempat terbaik untukmu'.
Dengan tanpa kenal kusenang menyambutmu.
Kau turun dengan anggun.
Bibirmu menyimpul kedalam
Seraya tersenyum kepadaku.
Ku pandu engkau bercerita sambil duduk ditepian dermaga.
Menikmati sunset yang kau sebut senja.
Sesekali kusisipkan lantunan lagu, untuk menambah syahdunya sore itu.
Dengan suara berat dan agak serak - serak basah,
ku mulai lantunkan lagu.
Sambil tesipu engkau pun berkata ' Suaramu bagus,
seperti suara pelantun lagu bento ''
Pikirku mungkin itu hanya ucapan sekelebat tanpa memikirkan dulu.
Malam pun datang dengan rembulan bulat menambah keagungannya.
Tak terasa tenggorokan kita kering.
Kupesan secangkir kopi hangat
Dan engkau secangkir matcha latte kesukaanmu
Sambil kuseruput kopi kudengarkan ceritamu.
Tanpa jeda kau ceritakan semua tentangmu,
Sampai ku bingung kata apa yang dapat menanggapi ceritamu.
Hanya kata "IYA' yang dapat keluar dalam pita suaraku,
Agar perbincangan tak terputus sampai disitu.
Malampun makin larut
Perbincangan pun makin kosong
Hanya diam yang dapat melukiskan waktu itu
Dengan lelahmu kau senderkan kepalamu dibahuku
Tanpa bersuara lagi dan diam kau lelap tertidur
Bersambung.......
Malang, 28 September 2019

Komentar
Posting Komentar